Laporan Praktikum Fisiologi Hewan
“Proses Respirasi dan Oksidasi”
Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah praktikum
Fisiologi Hewan yang diampu oleh Dosen Ibu Siti Nurkamilah, M. Pd.
Disusun oleh :
KELOMPOK 3
Elvia Desmonda (15542022)
Ai Nur Rela Rismayani (15542002)
Neti Haryanti (15542004)
Dina Nur Agnia (15541003)
Erma Juwita (15542005)
Abdul Rouf (15542024)
Tia Rifaatul Fauziah (14542032)
Deila Herdalia (14541054)
Kelas
: 3-A
S1 Pendidikan
Biologi
Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
Garut
2017
A.
Judul
Praktikum
“Proses Respirasi dan Oksidasi”
B.
Hari/Tanggal
Praktikum
Senin, 13
November 2017
C.
Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui
1. Mengetahui
proses resfirasi sel
2. Memahami
proses anaerobic (fermentasi)
3. Menentukan
jenis resfirasi pada suatu sel makhluk hidup
4. Memahami
proses oksidasi dalam masa resfirasi
D.
Alat
dan Bahan
·
Alat Yang Digunakan
No
|
Gambar danNama alat
|
Fungsi
|
1.
|
Gelas
kimia (fireks)
|
·
Tempat untuk menyimpan dan membuat
larutan
|
2.
|
Penjempit
|
·
Untuk menjempit tabung reaksi
|
3.
|
Spatula
|
·
Untuk mengambil bahan kimia dalam
bentuk padatan
|
4.
|
Lebel
|
·
Untuk memberikan lebel pada
masing-masing tabung reaksi
|
5.
|
Termometer
|
·
Untuk mengukur suhu (temperatur)
ataupun perubahan suhu
|
6.
|
Pipet
tetes
|
·
Untuk meneteskan atau mengambil
larutan dengan jumlah kecil
|
7.
|
Kapas
|
·
Untuk menutup sebagian tabung reaksi
|
8.
|
Bensin
|
·
Untuk menyalakan api ke spirtus
|
9.
|
Spirtus
|
·
Untuk membakar zat atau memanaskan larutan
|
10.
|
Kawat
kasa
|
·
Sebagai alat atau alat untuk menahan
labu atau beker pada waktu pemanasan menggunakan pemanas spirtus atau bunsen
|
11.
|
Kaki
tiga
|
·
Sebagai penyangga pembakar spirtus
|
12.
|
Tabung
reaksi 6
|
·
Untuk mereaksikan dua atau lebih zat
|
13.
|
Gelas
ukur 2
|
·
Untuk mengukur volume larutan
|
14.
|
Rak
tabung reaksi
|
·
Tempat tabung reaksi
·
Digunakan saat melakukan percobaan
yang membutuhkan banyak tabung reaksi
|
- Bahan Yang Digunakan
No
|
Gambar dan nama bahan
|
Fungsi
|
1.
|
Larutan
glukosa 10%
|
Bahan
yang akan di fermentasi
|
2.
|
Ragi
|
Bahan
yang mengandung organisme yang akan melakukan proses respirasi dan oksidasi
|
3.
|
Metilen
blue 0,4 M
|
Indikator
perubahan warna
|
4.
|
Aquades
|
Untuk
mengencerkan larutan
|
A.
Cara
Kerja
1. Menyiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan
2. Memanaskan
400 mL air menggunakan spirtus sampai dengan suhu 35-40 ̊ C
3. Menyiapakn
6 tabung reaksi , 2 tabung diberi label dipanaskan dan tidak dipanaskan.
Sedangkan 4 tabung reaksi berikan label dengan huruf A,B,C dan D.
4. Memasukan
5 mL larutan ragi kedalam 2 tabung reaksi yang berbeda
5. 1
tabung reaksi yang berisi larutan ragi di panaskan menggunakan spirtus sampai terjadi letupan, sedangkan 1 tabung
reaksi lagi dibiarkan pada suhu ruang
6. Memasukkan
1 mL (20 tetes) larutan ragi yang telah
di panaskan ke dalam tabung reaksi A dan B
7. Memasukkan
1 mL (20 tetes) larutan ragi yang dibiarkan pada suhu ruang ke dalam tabung reaksi C dan D
8. Memasukkan
1 mL (20 tetes) larutan Glukosa 10% dan
1 mL (20 tetes) methylene blue pada
tabung reaksi A,B, C dan D.
9. Memasukan
5 mL larutan Aquadest pada tabung reaksi A, B, C dan D
10. Menyumbat
tabung reaksi dengan ibu jari serta
kocok masing-masing tabung reaksi tersebut
11. Menutup
tabung reaksi A dan C menggunakan kapas, sedangkan tabung B dan D tetap terbuka
12. Semua
tabung reaksi tersebut di masukkan ke dalam 400 mL air yang sudah dipanaskan
sebelumnya
13. Menjaga
suhu air tersebut dengan cara mengukur suhunya agar tidak lebih dari suhu 40°C
menggunakan termometer
14. Melakukkan
pengamatan perubahan warna yang terjadi setiap 10 menit dengan waktu total 40
menit
15. Menuliskan
hasil pengamatan
A.
Hasil
pengamatan
Tabel hasil pengamatan perubahan warna larutan
percobaan :
Tabung
|
Warna
|
||||
Sebelum
|
Sesudah
|
||||
10´
|
10’ (pertama)
|
10´ (kedua)
|
10´ (ketiga)
|
10´ (keempat)
|
|
A
|
Biru
|
Biru
(+ + + + + +)
|
Biru
(+ + + + +)
|
Biru
(+ + + + +)
|
Biru
(+ + + + +)
|
B
|
Biru
|
Biru
(+ + + + +)
|
Biru
(+ + + +)
|
Biru
(+ + + + +)
|
Biru
(+ + + + +)
|
C
|
Biru
|
Biru
(+ + + +)
|
Biru
(+ + + +)
|
Biru
(+ + +)
|
Biru
(+ +)
|
D
|
Biru
|
Biru
(+ + +)
|
Biru
(+ +)
|
Biru
(+ +)
|
Biru
(+)
|
KETERANGAN
: (+
+ + + + + +) : Sangat pekat
(+ + + + +) : Pekat
(+ + + +) : Sedikit Pekat
(+ + +) : Sedikit Pudar
(+ +) : Pudar
(+) : Sangat Pudar
Pembahasan
Metabolisme
sel merupakan aktivitas
hidup yang dijalankan oleh sebuah sel yang merupakann unit kehidupan yang
terkecil atau proses-proses kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup atau sel. Metabolisme disebut juga
reaksi enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu menggunakan katalisator
enzim.
Berdasarkan prosesnya metabolisme dibagi menjadi 2
yaitu :
a. Anabolisme atau Asimilasi atau Sintesis
Anabolisme
adalah suatu peristiwa perubahan senyawa sederhana menjadi senyawa kompleks. Nama lain dari anabolisme adalah peristiwa sintesis
atau penyusunan. Anabolisme memerlukan energi, misalnya : energi cahaya untuk
fotosintesis, energi kimia untuk kemosintesis.
b.
Katabolisme
Katabolisme adalah reaksi penguraiann
senyawa yang kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan bantuan
enzim. Penguraian suatu senyawa dapat menghasilkan energi. Energi itu berasal
dari terlepasnya ikatan-ikatan kimia yang menyusun suatu persenyawaan. Semakain
kompleks perseyawaan kimia itu, semakin banyak ikatan kimia yang menyusunnya
dan akan semakin besar energi yang dilepaskannya. Akan tetapi, energi itu tidak
dapat digunakan secara langsung oleh sel. Energi itu diubah terlebih dahulu menjadi
persenyawaan Adenosin trifosfat (ATP) yang dapat digunakan oleh sel
sebagai sumber energi terpakai.
Contoh katabolisme adalah proses
pernapasan sel atau respirasi,
yaitu proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan energi. Respirasi
dilakukan olehh semua sel penyusun tubuh, baik sel-sel tumbuhan maupun sel
hewan dan manusia. Ditinjau dari kebutuhannya akan oksigen, respirasi dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu respirasi
aerob dan espirasi anaerob.
a) Respirasi aerobic
Respirasi aerob
adalah respirasi yang menggunakan oksigen bebas untuk mendapatkan energi. Proses
respirasi aerob dibagi dalam empat tahapan, yaitu glikolisis, dekarboksilasi
oksidatif, siklus krebs, dan transfer elektron.
·
Glikolisis
Adalah
rangkaian reaksi pengubahan molekul glukosa menjadi asam piruvat dengan
menghasilkan NADH dan ATP.
Setiap
pemecahan 1 molekul glukosa pada reaksi glikolisis akan menghasilkan produk
kotor berupa 2 molekul asam piruvat, 2 molekul NADH, 4 molekul ATP, dan 2
molekul air. Akan tetapi, pada awal reaksi ini telah digunakan 2 molekul ATP,
sehingga hasil bersih reaksi ini adalah 2 molekul asam piruvat (C3H4O3), 2 molekul NADH, 2 molekul ATP, dan 2 molekul air. Perlu dicatat,
pencantuman air sebagai hasil glikolisis bersifat opsional, karena ada sumber
lain yang tidak mencantumkan air sebagai hasil glikolisis.
·
Dekarboksilasi
oksidatif
Dekarboksilasi oksidatif adalah reaksi yang mengubah asam
piruvat yang beratom 3 C menjadi senyawa baru yang beratom C dua buah, yaitu 2
asetil koenzim-A (asetil ko-A). Reaksi dekarboksilasi oksidatif ini sering juga
disebut sebagai tahap persiapan untuk masuk ke siklus Krebs.
Setelah melalui reaksi glikolisis, jika terdapat molekul
oksigen yang cukup maka asam piruvat akan menjalani tahapan reaksi selanjutnya,
yaitu siklus Krebs yang bertempat di matriks mitokondria. Jika tidak terdapat
molekul oksigen yang cukup maka asam piruvat akan menjalani reaksi fermentasi.
Akan tetapi, asam piruvat yang mandapat molekul oksigen yang cukup dan akan
meneruskan tahapan reaksi tidak dapat begitu saja masuk ke dalam siklus Krebs,
karena asam piruvat memiliki atom C terlalu banyak, yaitu 3 buah. Persyaratan
molekul yang dapat menjalani siklus Krebs adalah molekul tersebut harus
mempunyai dua atom C (2 C). Karena itu, asam piruvat akan menjalani reaksi
dekarboksilasi oksidatif.
·
Siklus Krebs
Sebelum
berlangsung siklus krebs, asam piruvat (3C) yang merupakan hasil akhir dari
glikolisis diubah terlebih dahulu menjadi asetil KoA (2C) melalui
dekarboksilasi oksidatif.
Memasuki
siklus krebs, asetil KoA direaksikan dengan asam oksaloasetat (4C)menjadi asam
sitrat (6C). Selanjutnya, asam sitrat memasuki daur menjadi berbagai macam zat
yang akhirnya kembali menjadi asam oksaloasetat dengan melepaskan CO2.
Pada tiap tahapan, dilepaskan energi dalam bentuk ATP dan hidrogen. ATP yang
dihasilkan langsung dapat digunakan. Sebaliknya, hidrogen berenergi digabungkan
dengan penerimaan hidrogen (akseptor hidrogen) yaitu NAD+ dan
FAD, untuk dibawa ke sistem transfor elektron.
Pada siklus
Krebs, sebagian besar energi disimpan dalam NADH, yaitu sebanyak 6 molekul.
Selain NADH, pada satu tahap, energi dihasilkan dalam FADH2(flavin
adenin dinuklotida hidrogen). Satu tahap dalam siklus Krebs juga menghasilkan 2
ATP secara langsung. Seluruh reaksi siklus Krebs berlangsung dengan memerlukan
oksigen bebas (aerobik). Siklus krebs berlangsung di dalam mitokondria.
·
Transfer Elektron
Energi
yang terbentuk dari peristiwa glikolisis dan siklus Krebs ada dua macam.
Pertama, dalam bentuk ikatan fosfat berenergi tinggi, yaitu ATP atau GTP
(guanosin trifosfat). Energi in merupakan energi siap pakai yang langsung dapat
digunakan. Kedua, dalam bentuk sumber elektron, yaitu NADH dan FAD (flavin
adenin dinukleotida) dalam bentuk FADH2. Kedua macam sumber elektron
ini dibawa ke sistem transfor elektron.
Proses
transfos elektren ini sangat kompleks. Pada dasarnya, elektron dan H+ dari
NADH dan FADH2 dibawa darai satu subtrat ke substrat lain
secara berantai. Pembawa elektron dalam transfor elektron antara lain protein
besi-sulfur (Fe.S) dan sitokrom. Selain itu terdapat pula senyawa ubikuinon
yang bukan protein. Setiap kali dipindahkan, energi yang terlepas digunakan
untuk mengikat fosfat anorganik (P) ke molekul ADP sehingga terbentuk ATP. Pada
bagian akhir terdapat (O2) sebagai penerima (akseptor), sehinga
terbentuk H2O.
Jadi, dari keseluruhan proses
katabolisme 1 glukosa melalui respirasi aerobik, dihasilkan 38 ATP, dengan
perincian sebagai berikut:
Glikolisis : 2 NADH + 2 ATP
= 8 ATP
Dekarboksilasi Oksidatif : 2 NADH = 6 ATP
Siklus Krebs
: 6 NADH + 2 FADH
+ 2 ATP = 24 ATP
Total = 38 ATP
b)
Respirasi Anaerob
Respirasi anaerob dapat
pula disebut fermentasi (peragian alcohol atau alkoholisasi) atau respirasi
intramolekul. Tujuan fermentasi sama dengan respirasi aerob, yaitu mendapatkan
energy. Hanya saja energi yang dihasilkan jauh lebih sedikit dari respirasi
aerob. Pernapasan anaerob dapat berlangsung didalam udara bebas, tetapi proses
ini tidak menggunakan O2 yang disediakan di udara.
c.
Reaksi Oksidasi
Reaksi Oksidasi dapat didefinisikan sebagai peristiwa
kehilangan elektron atau kehilangan hydrogen, sehingga disebut juga reaksi
dehidrogenasi. Bila suatu senyawa dioksidasi maka harus ada senyawa lain yang
direduksi, yaitu akan memperoleh elektron atau memperoleh hydrogen.
Sedagkan pengertian sempit
oksidasi dalam biologi merupakan reaksi suatu zat dengan molekul oksigen. Di dalam sistem biologi sel makhluk hidup, reaksi oksidasi reduksi
berperan dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energi. Contohnya pada oksidasi
glukosa menjadi CO , air dan energi.
Pada
percobaan ini akan mengetahu proses
respirasi dan oksidasi dengan menggunakan beberapa bahan sepertilarutan glukosa
10%, larutan ragi, larutan metilen blue dan aquadest.
Hal
yang pertama dilakukan adalah menyiapakan 6 tabung reaksi, 2 tabung reaksi
diberi label dipanaskan dan tidak dipanaskan, kemudian memasukan larutan ragi
sebanyak 5 mL pada masing-masing tabung dan diberikan perlakuan berbeda. Tabung
reaksi pertama dipanaskan dengan Bunsen spirtus sampai larutannya menghasilkan
letupan-letupan kecil. Pada tabung reaksi kedua larutan ragi dibiarkan dan
tidak dipanaskan. Sambil menunggu, 400 mL air dipanaskan menggunakan Bunsen
spirtus dan ditunggu sampai suhunya berkisar antara 35-40 ̊ C.
Ragi atau fermen
merupakan zat yang menyebabkan fermentasi. Ragi biasanya mengandung
mikroorganisme yang melakukan fermentasi dan media biakan bagi mikroorganisme
tersebut. Media biakan ini dapat berbentuk butiran-butiran kecil atau cairan
nutrien. Ragi umumnya digunakan dalam industri makanan untuk membuat makanan
dan minuman hasil fermentasi seperti acar, tempe, roti dan bir.
Salah satu Mikroorganisme
yang ada dalam larutan ragi yang dibuat adalah Saacharomyces cereviceae.
Klasifikasi
Kingdom : Fungi
Filum : Ascomycota
Kelas : Saccharomycetes
Ordo : Saccharomycetales
Family : Saccharomycetaceae
Genus : Saccharomyces
Spesies : Saccharomyces cereviceae
|
Berikut ini larutan ragi yang sudah diberi perlakuan
berbeda.
4 tabung reaksi lain diberi label dengan huruf A, B,
C dan D . pelabelan ini dimaksudkan untuk lebih memudahkan dalam pengamatan. pada
tabung reaksi A dan B dimasukan larutan ragi yang sudah dipanaskan
masing-masing sebanyak 1 mL atau sama dengan 20 tetes. Sedangkan pada tabung
reaksi C dan D dimasukan ragi yang tidak dipanaskan dengan volume yang sama
yaitu 1 mL atau 20 tetes.
Selanjutnya pada tabung reaksi A, B, C dan D
dimasukan larutan metilen blue 1 mL atau 20 tetes dan larutan glukosa 10% 1 mL
atau 20 tetes. Metilen blue digunakan karena secara fisik, metilen biru memberi warna pada sel, namun
secara kimia tidak menggangu metabolisme dalam sel, sehingga pengamatan tetap
akurat. Selain itu, dalam praktikum ini metilen blue digunakan sebagai
indikator adanya kehidupan dalam sel dimana sel disini adalah bakteri dari ragi.
Jika warna larutannya berangsur-angsur memudar, maka sel yang diamati masih
hidup dan menghasilkan enzim yang menguraikan metilen blue. Jika warnanya tetap
biru, berarti sel yang diamati sudah mati.
Larutan glukosa 10% digunakan
sebagai bahan yang akan digunakan oleh bakteri dari ragi seperti dalam proses
fermentasi sumber utama yang akan diubahnya adalah adalah karbohidrat ,
sehingga akan terlihat jelas bakteri teersebut bekerja dan hidup dengan baik
atau tikak.
Adapun struktur glukosa adalah :
Setelah beberapa penambahan larutan diatas, larutan
aquadest dimasukan pada tabung reaksi A, B , C dan D sebanyak 5 mL untuk
mengencerkan larutan, sehingga larutan tersebut tidak terlalu pekat karena
bertambah volumenya.
Adapun larutan yang sudah diencerkan adalah
Larutan yang sudah di
encerkan tersebut kemudian di kocok agar tercampur dengan rata. Semua tabung
reaksi warnanya sama yaitu biru pekat. Pada tabung reaksi A dan C yang berisi
larutan kemudian ditutup dengan kapas agar tidak ada Oksigen yang masuk.
Sedangkan tabung reaksi B dan D dibiarkan terbuka. Dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.
Kemudian tabung reaksi A,
B, C dan D tersebut di masukan kedalam air yang sebelumnya sudah di panaskan
sampai suhunya 35-40 ̊ C. pada ke empat tabung tersebut dilakukan pengamatan
perubahan warna serta proses perubahan lainnya selama 40 menit. Setiap
perubahan yang terjadi dilihat setiap 10 menit. Adapun hasil pengamatannya
adalah :
·
10 menit pertama
-
Pada tabung reaksi A terlihat warna biru sangat pekat (+ + + + + +)
-
Pada tabung reaksi B terlihat warna biru
pekat (+ + + + + )
-
Pada tabung reaksi C terlihat warna biru sedikit pekat (+ + + + )
-
Pada tabung reaksi D terlihat warna biru sedikit pudar (+ + + )
Pada tabung reaksi A dan B perubahan
warna tidak terlalu terlihat dan warna keduanya sangat pekat. Sedangkan pada
tabung reaksi C dan D perubahan warnanya terlihat dengan jelas. Tabung reaksi A
dan C yang ditutup kapas tebih berwarna biru pekat sedangkan tabung reaksi B
dan D yang tidak ditutup warnanya memudar.
Hasil pengamatan pada 10
menit pertama dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
·
10 menit kedua
-
Pada tabung reaksi A terlihat warna biru pekat (+ + + + +)
-
Pada tabung reaksi B terlihat warna biru sedikit pekat (+ + + + )
-
Pada tabung reaksi C terlihat warna biru sedikit pekat (+ + + + )
-
Pada tabung reaksi D terlihat warna biru pudar (+ +)
Pada
tabung reaksi A dan B perubahan warna tidak terlalu terlihat dan warna keduanya
masih pekat. Sedangkan pada tabung reaksi C dan D perubahan warnanya terlihat
sangat jelas. Pada tabung reaksi C warna birunya berkurang dari sebelumnya dan tabung
reaksi D menjadi sedikit memudar dari sebelumnya.
Tabung reaksi A dan B yang ditutup kapas lebih berwarna pekat sedangkan tabung
reaksi B dan D yang tidak ditutup warnanya semakin memudar. Hasil pengamatan
pada 10 menit kedua dapat dilihat pada gambar dibawah ini
Tabung reaksi A dan B
|
Tabung reaksi C dan D
|
·
10 menit ketiga
-
Pada tabung reaksi A terlihat warna biru pekat (+ + + + +)
-
Pada tabung reaksi B terlihat warna biru pekat (+ + + + +)
-
Pada tabung reaksi C terlihat warna biru sedikit pudar ( + + + )
-
Pada tabung reaksi D terlihat warna biru pudar (+ +)
Pada
tabung reaksi A yang ditutup dengan kapas dan tabung reaksi B yang dibiarkan
terbuka warna tidak berubah ,keduanya masih berwarna biru pekat. Sedangkan pada
tabung reaksi C dan D perubahan warnanya terlihat sangat jelas. Pada tabung
reaksi C dan D warnanya semakin memudar. Tetapi apabila dibandingkan akan
tabung reaksi D yang terbuka lebih pudar dari tabung reaksi C yang di tutup
oleh kapas. Hasil pengamatan pada 10 menit ketiga dapat dilihat pada gambar
dibawah ini
|
Tabung reaksi A dan B
|
Tabung reaksi C dan D
|
·
10 menit keempat
-
Pada tabung reaksi A terlihat warna biru pekat (+ + + + +)
-
Pada tabung reaksi B terlihat warna biru pekat (+ + + + +)
-
Pada tabung reaksi C terlihat warna biru pudar ( + + )
-
Pada tabung reaksi D terlihat warna biru sangat pudar (+)
Pada
tabung reaksi A yang ditutup dengan kapas dan tabung reaksi B yang dibiarkan
terbuka warna tidak berubah seperti pada 10 menit ke-3, keduanya masih berwarna
biru pekat. Sedangkan pada tabung reaksi C dan D perubahan warnanya semakin
memudar. Tabung reaksi C yang ditutup menngunakan kapas berwarna biru pudar
sedangkan tabung reaksi D sangat pudar. Hasil pengamatan pada 10 menit ketiga
dapat dilihat pada gambar dibawah ini
Tabung reaksi A dan B
|
Tabung reaksi C dan D
|
Dari
40 menit tersebut dapat dilihat bahwa pada tabung reaksi A yang ditutup
menggunakan kapas dan tabung reaksi B dengan dibiarkan terbuka yang berisi larutan
ragi yang telah dipanaskan, perubahan warnanya tidak terlalu signifikan bahkan
dari 10 menit ke-3 sampai 10 menit ke-4 warna larutannya masih tetap berwarna
biru pekat. Hal tersebut di akibatkan karena bakteri yang ada ada didalam
larutan ragi telah mati karena pemanasan sebelumnya sehingga tidak mampu untuk
melakukan proses respirasi dan oksidasi baik dalam keadaan aerob (ada oksigen)
atau dalam keadaan anaerob (tidak ada oksigen). Hal ini ditandai dengan warna
biru yang tetap pekat dan terdapat endapan karena tidak ada proses apapun yang
terjadi.
Sedangkan
pada tabung tabung reaksi C yang ditutup menggunakan kapas dan tabung reaksi D
dengan dibiarkan terbuka yang berisi larutan ragi yang telah dipanaskan,
perubahan warnanya terlihat sangat signifikan. Dengan awal mula warna larutan
biru pekat menjadi biru sangat pudar. Tetapi terdapat perbedaan kepudaran warna
antara kedua tabung tersebut. Tabung reaksi D yang terbuka lebih pudar
dibandingkan tabung reaksi C yang di tutup menggunakan kapas. Hal tersebut di
akibatkan karena bakteri yang ada ada didalam larutan ragi melakukan proses
respirasi. Pada tabung reaksi C bakteri yang ada didalam larutan ragi melakukan
respirasi secara anaerob atau dalam keadaan yang tidak ada oksigen sehingga
proses respirasi dan oksidasi berjalan dengan lambat. Reaksi anaerob dapat dilihat pada reaksi
dibawah ini.
C6H12O6
------ 2 C2H5OH + 2CO2 +
21 kal + 2 ATP
|
C6H12O6 → 6 CO2 + 6 H2O + 675 kal + 38 ATP
Dalam
hal ini maka proses fermentasi berlangsung dimana larutan glukosa, fruktosa, galaktosa, dan manosa sebagai Bahan baku respirasi anaerobik
menghasilkan alkohol, karbon dioksida, dan energi.
Dalam respirasi aeron dan anaerob ini hanya berbeda
dalam jumlah energy yang dihasilkannya.
Sedangkan Proses oksidasi ini dapat berlangsung secara anaerob
maupun aerob kecuali pada tabung A dan B yang berisi
mikroorganisme mati.
Pada tabung D yang terbuka atau keadaan aerob reaksi berlangsung tanpa adanya oksigen
sebagai penerima akhir elektron atau hydrogen. Contohnya adalah proses peragian
karbohidrat oleh sel ragi seperti yang dilakukan
pada praktikum ini. Karbohidrat
seperti pati, glukosa, sukrosa, dll. Dapat diuraikan oleh enzim-enzim yang
terdapat di dalam ragi menjadi CO dan etanol.
Pada tabung C yang terbuka dalam keadaan
anaerob, reaksi berlangsung dengan menggunakan oksigen sebagai
penerima akhir elektron atau hydrogen. Keadaan ini dapat ditemukan pada
berbagai sel hidup dalam lingkungan yang cukup oksigen. Hasil akhir oksidasi
aerob adalah CO dan air.
Tetapi
pada percobaan ini tidak mencapai titik akromatis karena dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti suhu,
ketersediaan oksigen, substrat itu sendiri.
Atau apabila waktu pengamatan lebih lama lagi mungkin saja akan mencapai titik
akromatis. Keseluhuruhan hasil pengamatan pada percobaan ini dapat dilihat pada
gambar dibawah ini .
A.
Kesimpulan
Jadi
Dari praktikum proses respirasi dan oksidasi ini dapat diketahui beberapa
kesimpulan, yaitu :
1.
Mikroorganisme yang ada pada larutan ragi (Saccharomyces cerevisiae)
didalam tabung reaksi A dan B tidak melakukan
respirasi dan oksidasi karena mengalami kematian akibat pemanasan, sedangkan
pada tabung reaksi C dan D terjadi proses respirasi dan oksidasi.
2. Larutan
lukosa 10% dapat difermentasi oleh larutan ragi yang mengandung mikroorganisme fermentasi yaitu Saccharomyces cerevisiae menghasilkan alkohol, karbon
dioksida, dan energi.
Reaksinya
dapat dilihat dibawah ini.
C6H12O6
------ 2 C2H5OH + 2CO2 +
21 kal + 2 ATP
3.
Larutan ragi yang mengandung
organisme fermentasi (Saccharomyces
cerevisiae)
pada tabung C dan D menunjukan
bahwa terjadi respirasi secara Anaerob Fakultatif. Organisme anaerobik fakultatif adalah organisme
atau bakteri yang mampu menghasilkan ATP secara respirasi aerob jika
terdapat oksigen tetapi juga mampu melakukan respirasi
secara anaerob (fermentasi)
jika keadaanya kekurangan oksigen. Dapat dilihat pada tabung reaksi C yang di
tutup dengan kapas dan tabung reaksi D yang terbuka sama-sama terjadi
perubahan warna menjadi memudar.
4. Proses oksidasi ini dapat berlangsung secara anaerob
maupun aerob kecuali pada tabung A dan B yang berisi
mikroorganisme mati. Pada tabung D yang
terbuka atau keadaan aerob
reaksi berlangsung tanpa adanya oksigen sebagai penerima akhir elektron atau
hydrogen. Karbohidrat seperti pati, glukosa, sukrosa, dll. Dapat diuraikan oleh
enzim-enzim yang terdapat di dalam ragi menjadi CO dan etanol.
Pada
tabung C yang terbuka dalam keadaan anaerob, reaksi berlangsung dengan menggunakan oksigen sebagai penerima akhir
elektron atau hydrogen. Keadaan ini dapat ditemukan pada berbagai sel hidup
dalam lingkungan yang cukup oksigen. Hasil akhir oksidasi aerob adalah CO dan
air.
B.
Soal
1. Apakah yang dimaksud dengan respirasi sel?
Jawab :
Respirasi sel adalah proses pengubahan senyawa anorganik menjadi
organic, atau proses perubahan senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana
dimana mengahsilkan energy dalam bentuk ATP.
Respirasi dilakukan oleh semua sel penyusun tubuh, baik sel-sel tumbuhan,sel
hewan dan sel manusia. Ditinjau dari kebutuhannya akan oksigen, respirasi dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu respirasi
aerob (memebutuhkan oksigen) dan respirasi anaerob (tidak membutuhkan oksigen).
2. Apakah yang dimaksud dengan oksidasi?
Jawab:
Reaksi Oksidasi
dapat didefinisikan sebagai peristiwa kehilangan elektron atau kehilangan
hydrogen, sehingga disebut juga reaksi dehidrogenasi. Bila suatu senyawa dioksidasi
maka harus ada senyawa lain yang direduksi, yaitu akan memperoleh elektron atau
memperoleh hydrogen. Sedangkan pengertian sempit oksidasi dalam
biologi merupakan reaksi suatu zat dengan molekul oksigen. Di dalam sistem biologi sel makhluk hidup, reaksi oksidasi reduksi
berperan dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energi. Contohnya pada oksidasi
glukosa menjadi CO , air dan energi.
3. Apa sebabnya terjadi perbedaan
kecepatan perubahan warna antara tabung A dan B,
dengan tabung C dan D?
Jawab :
Perbedaan kecepatan perubahan warna
antara tabung reaksi A dan B dengan tabung reaksi C dan D terjadi karena
perbedaan perlakuan. Pada Tabung A dan B dimasukan larutan ragi yang sudah
dipanaskan dan organisme yang ada didalam ragi mati sehingga tidak ada perubahan
warna yang signifikan ketika sudah diberi larutan glukosa10 % , dan metilen
blue lalu dipanaskan , atau dengan kata lain tidak terjadi proses respirasi dan
oksidasi baik dalam keadaan aerob dan keadaan anaerob. Sedangkan pada tabung
reaksi C dan D di masukan larutan ragi dipanaskan dan organisme yang ada
didalam ragi masih hidup sehingga terdapat perubahan warna menjadi pudar ketika
sudah diberi larutan glukosa10 % dan metilen blue, lalu dipanaskan atau dengan
kata lain terjadi proses respirasi fakultatif dan proses oksidasi. Selain itu suhu, ketersediaan oksigen, substrat itu sendiri
menjadi factor yang menyebabkan perubahan warna berbeda dimana menunjukan
kecepatan respirasi pada suatu sel.
Daftar pustaka
Sridianty.2013. Pengertian
Respirasi sel. Diunduh pada tanggal 10 November 2017.
anonym. 2012. “Pengetian
Oksidasi”. Diunduh pada tanggal 10 November 2017. http://libratama.com/pengertian-oksidasi/
Rifatuliah, amalia. dkk . 2014. ”
Laporan Praktikum Proses Respirasi dan Oksidasi”.Diunduh pada tanggal 09
November 2017. http://ourbiologiesknowladge.blogspot.co.id/2014/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html
Ratnasari, Mia. dkk.2016.“Laporan Praktikum Proses Respirasi dan
Oksidasi”. Diunduh pada tanggal 09 November 2017.http://kelompok5fiswanresfirasi3b.blogspot.co.id/2016/11/proses-oksidasi-dan-resfirasi-praktikum.html
Falidaty, Hisni.dkk. “Laporan
Praktikum Proses Respirasi dan Oksidasi”. Di unduh pada tanggal 09 November
2017.
wikipedia. “Klasifikasi
Saccharmices cereviceae”. Di unduh pada tanggal 09 November 2017. https://id.wikipedia.org/wiki/Saccharomyces_cerevisiae
Wikipedia. Gambar struktur
kimia glukosa .Di unduh pada tanggal 17 November 2017. https://www.google.co.id/search?q=struktur+kimia+glukosa&rlz=1C1AVFB_enID761ID762&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwicpamc08TXAhWMqI8KHTxfDAAQ_AUICigB&biw=1366&bih=662#imgrc=vEHG6Q3luTHPfM:

































