Jumat, 17 November 2017

Proses Respirasi dan Oksidasi



Laporan Praktikum Fisiologi Hewan
“Proses Respirasi dan Oksidasi”
Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah praktikum Fisiologi Hewan yang diampu oleh Dosen Ibu Siti Nurkamilah, M. Pd.
Disusun oleh :
 KELOMPOK 3
Elvia Desmonda                    (15542022)
Ai Nur Rela Rismayani        (15542002)
Neti Haryanti                         (15542004)
Dina Nur Agnia                     (15541003)
Erma Juwita                          (15542005)
Abdul Rouf                            (15542024)
Tia Rifaatul Fauziah             (14542032)
Deila Herdalia                        (14541054)
                                                            Kelas : 3-A
  S1 Pendidikan Biologi



Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
 Garut
  2017
A.    Judul Praktikum
Proses Respirasi dan Oksidasi
B.     Hari/Tanggal Praktikum
Senin, 13 November 2017
C.    Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui 
1.      Mengetahui proses resfirasi sel
2.      Memahami proses anaerobic (fermentasi)
3.      Menentukan jenis resfirasi pada suatu sel makhluk hidup
4.      Memahami proses oksidasi dalam masa resfirasi 

D.    Alat dan Bahan
·         Alat  Yang Digunakan
No
Gambar danNama alat
Fungsi
1.
Gelas kimia (fireks)


·         Tempat untuk menyimpan dan membuat larutan







2.

Penjempit


·         Untuk menjempit tabung reaksi







3.
Spatula



·         Untuk mengambil bahan kimia dalam bentuk padatan
4.
Lebel

·         Untuk memberikan lebel pada masing-masing tabung reaksi






5.
Termometer



·         Untuk mengukur suhu (temperatur) ataupun perubahan suhu
6.
Pipet tetes



·         Untuk meneteskan atau mengambil larutan dengan jumlah kecil
7.
Kapas

·         Untuk menutup sebagian tabung reaksi
8.
Bensin



·         Untuk menyalakan api ke spirtus







9.
Spirtus



·         Untuk membakar zat atau memanaskan larutan










10.
Kawat kasa


 

·         Sebagai alat atau alat untuk menahan labu atau beker pada waktu pemanasan menggunakan pemanas spirtus atau bunsen
11.
Kaki tiga



·         Sebagai penyangga pembakar spirtus
12.
Tabung reaksi 6



·         Untuk mereaksikan dua atau lebih zat
13.
Gelas ukur 2



·         Untuk mengukur volume larutan











14.
Rak tabung reaksi



·         Tempat tabung reaksi
·         Digunakan saat melakukan percobaan yang membutuhkan banyak tabung reaksi 


 
  •         Bahan Yang Digunakan
No
Gambar dan nama bahan
Fungsi
1.
Larutan glukosa 10%

Bahan yang akan di fermentasi
2.
Ragi
Bahan yang mengandung organisme yang akan melakukan proses respirasi dan oksidasi
3.
Metilen blue 0,4 M

Indikator perubahan warna
4.
Aquades
Untuk mengencerkan larutan



A.    Cara Kerja

1.      Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

2.      Memanaskan 400 mL air menggunakan spirtus sampai dengan suhu 35-40 ̊ C

3.      Menyiapakn 6 tabung reaksi , 2 tabung diberi label dipanaskan dan tidak dipanaskan. Sedangkan 4 tabung reaksi berikan label dengan huruf A,B,C dan D.
4.      Memasukan 5 mL larutan ragi kedalam 2 tabung reaksi yang berbeda
5.      1 tabung reaksi yang berisi larutan ragi di panaskan menggunakan spirtus  sampai terjadi letupan, sedangkan 1 tabung reaksi lagi dibiarkan pada suhu ruang
6.      Memasukkan 1 mL (20 tetes)  larutan ragi yang telah di panaskan ke dalam tabung reaksi A dan B
7.      Memasukkan 1 mL (20 tetes) larutan ragi yang dibiarkan pada suhu ruang  ke dalam tabung reaksi C dan D
8.      Memasukkan 1 mL (20 tetes)  larutan Glukosa 10% dan 1 mL (20 tetes)  methylene blue pada tabung reaksi A,B, C dan D.
9.      Memasukan 5 mL larutan Aquadest pada tabung reaksi A, B, C dan D
10.  Menyumbat  tabung reaksi dengan ibu jari serta kocok masing-masing tabung reaksi tersebut
11.  Menutup tabung reaksi A dan C menggunakan kapas, sedangkan tabung B dan D tetap terbuka
12.  Semua tabung reaksi tersebut di masukkan ke dalam 400 mL air yang sudah dipanaskan sebelumnya
13.  Menjaga suhu air tersebut dengan cara mengukur suhunya agar tidak lebih dari suhu 40°C menggunakan termometer
14.  Melakukkan pengamatan perubahan warna yang terjadi setiap 10 menit dengan waktu total 40 menit
15.  Menuliskan hasil pengamatan

A.    Hasil pengamatan
Tabel  hasil pengamatan perubahan warna larutan percobaan :
Tabung
Warna

Sebelum
Sesudah

10´
10’ (pertama)
10´ (kedua)
10´ (ketiga)
10´ (keempat)
A
Biru
Biru
(+ + + + + +)
Biru
(+ + + + +)
Biru
(+ + + + +)
Biru
(+ + + + +)

B
Biru
Biru
(+ + + + +)
Biru
(+ + + +)
Biru
 (+ + + + +)
Biru
 (+ + + + +)
C
Biru
Biru
(+ + + +)
Biru
 (+ + + +)
Biru
 (+ + +)
Biru
(+ +)
D
Biru
Biru
 (+ + +)
Biru
(+ +)
Biru
 (+ +)
Biru
(+)



KETERANGAN :      (+ + + + + + +)            : Sangat pekat

(+ + + + +)                  : Pekat

(+ + + +)                      : Sedikit Pekat

(+ + +)                         : Sedikit Pudar
(+ +)                            : Pudar
(+)                               : Sangat Pudar

Pembahasan
Metabolisme sel merupakan aktivitas hidup yang dijalankan oleh sebuah sel yang merupakann  unit kehidupan yang terkecil atau proses-proses kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup atau sel. Metabolisme disebut juga reaksi enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu menggunakan katalisator enzim.
Berdasarkan prosesnya metabolisme dibagi menjadi 2 yaitu :
a.       Anabolisme atau Asimilasi atau  Sintesis 
Anabolisme adalah suatu peristiwa perubahan senyawa sederhana menjadi senyawa kompleks. Nama lain dari anabolisme adalah peristiwa sintesis atau penyusunan. Anabolisme memerlukan energi, misalnya : energi cahaya untuk fotosintesis, energi kimia untuk kemosintesis.
b.      Katabolisme
Katabolisme adalah reaksi penguraiann senyawa yang kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan bantuan enzim. Penguraian suatu senyawa dapat menghasilkan energi. Energi itu berasal dari terlepasnya ikatan-ikatan kimia yang menyusun suatu persenyawaan. Semakain kompleks perseyawaan kimia itu, semakin banyak ikatan kimia yang menyusunnya dan akan semakin besar energi yang dilepaskannya. Akan tetapi, energi itu tidak dapat digunakan secara langsung oleh sel. Energi itu diubah terlebih dahulu menjadi persenyawaan Adenosin trifosfat (ATP) yang dapat digunakan oleh sel sebagai sumber energi terpakai.
Contoh katabolisme adalah proses pernapasan sel atau respirasi, yaitu proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan energi. Respirasi dilakukan olehh semua sel penyusun tubuh, baik sel-sel tumbuhan maupun sel hewan dan manusia. Ditinjau dari kebutuhannya akan oksigen, respirasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu respirasi aerob dan espirasi anaerob.

a)      Respirasi aerobic
Respirasi aerob adalah respirasi yang menggunakan oksigen bebas untuk mendapatkan energi. Proses respirasi aerob dibagi dalam empat tahapan, yaitu glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, siklus krebs, dan transfer elektron.
·         Glikolisis
Adalah rangkaian reaksi pengubahan molekul glukosa menjadi asam piruvat dengan menghasilkan NADH dan ATP.
Setiap pemecahan 1 molekul glukosa pada reaksi glikolisis akan menghasilkan produk kotor berupa 2 molekul asam piruvat, 2 molekul NADH, 4 molekul ATP, dan 2 molekul air. Akan tetapi, pada awal reaksi ini telah digunakan 2 molekul ATP, sehingga hasil bersih reaksi ini adalah 2 molekul asam piruvat (C3H4O3)2 molekul NADH2 molekul ATPdan 2 molekul air. Perlu dicatat, pencantuman air sebagai hasil glikolisis bersifat opsional, karena ada sumber lain yang tidak mencantumkan air sebagai hasil glikolisis.
·         Dekarboksilasi oksidatif
Dekarboksilasi oksidatif adalah reaksi yang mengubah asam piruvat yang beratom 3 C menjadi senyawa baru yang beratom C dua buah, yaitu 2 asetil koenzim-A (asetil ko-A). Reaksi dekarboksilasi oksidatif ini sering juga disebut sebagai tahap persiapan untuk masuk ke siklus Krebs.
Setelah melalui reaksi glikolisis, jika terdapat molekul oksigen yang cukup maka asam piruvat akan menjalani tahapan reaksi selanjutnya, yaitu siklus Krebs yang bertempat di matriks mitokondria. Jika tidak terdapat molekul oksigen yang cukup maka asam piruvat akan menjalani reaksi fermentasi. Akan tetapi, asam piruvat yang mandapat molekul oksigen yang cukup dan akan meneruskan tahapan reaksi tidak dapat begitu saja masuk ke dalam siklus Krebs, karena asam piruvat memiliki atom C terlalu banyak, yaitu 3 buah. Persyaratan molekul yang dapat menjalani siklus Krebs adalah molekul tersebut harus mempunyai dua atom C (2 C). Karena itu, asam piruvat akan menjalani reaksi dekarboksilasi oksidatif.
·         Siklus Krebs
Sebelum berlangsung siklus krebs, asam piruvat (3C) yang merupakan hasil akhir dari glikolisis diubah terlebih dahulu menjadi asetil KoA (2C) melalui dekarboksilasi oksidatif.
Memasuki siklus krebs, asetil KoA direaksikan dengan asam oksaloasetat (4C)menjadi asam sitrat (6C). Selanjutnya, asam sitrat memasuki daur menjadi berbagai macam zat yang akhirnya kembali menjadi asam oksaloasetat dengan melepaskan CO2. Pada tiap tahapan, dilepaskan energi dalam bentuk ATP dan hidrogen. ATP yang dihasilkan langsung dapat digunakan. Sebaliknya, hidrogen berenergi digabungkan dengan penerimaan hidrogen (akseptor hidrogen) yaitu NAD+ dan FAD, untuk dibawa ke sistem transfor elektron.
Pada siklus Krebs, sebagian besar energi disimpan dalam NADH, yaitu sebanyak 6 molekul. Selain NADH, pada satu tahap, energi dihasilkan dalam FADH2(flavin adenin dinuklotida hidrogen). Satu tahap dalam siklus Krebs juga menghasilkan 2 ATP secara langsung. Seluruh reaksi siklus Krebs berlangsung dengan memerlukan oksigen bebas (aerobik). Siklus krebs berlangsung di dalam mitokondria.
·         Transfer Elektron
Energi yang terbentuk dari peristiwa glikolisis dan siklus Krebs ada dua macam. Pertama, dalam bentuk ikatan fosfat berenergi tinggi, yaitu ATP atau GTP (guanosin trifosfat). Energi in merupakan energi siap pakai yang langsung dapat digunakan. Kedua, dalam bentuk sumber elektron, yaitu NADH dan FAD (flavin adenin dinukleotida) dalam bentuk FADH2. Kedua macam sumber elektron ini dibawa ke sistem transfor elektron.
Proses transfos elektren ini sangat kompleks. Pada dasarnya, elektron dan H+ dari NADH dan FADH2 dibawa darai satu subtrat ke substrat lain secara berantai. Pembawa elektron dalam transfor elektron antara lain protein besi-sulfur (Fe.S) dan sitokrom. Selain itu terdapat pula senyawa ubikuinon yang bukan protein. Setiap kali dipindahkan, energi yang terlepas digunakan untuk mengikat fosfat anorganik (P) ke molekul ADP sehingga terbentuk ATP. Pada bagian akhir terdapat (O2) sebagai penerima (akseptor), sehinga terbentuk H2O.
Jadi, dari keseluruhan proses katabolisme 1 glukosa melalui respirasi aerobik, dihasilkan 38 ATP, dengan perincian sebagai berikut:
Glikolisis                            : 2 NADH + 2 ATP                       = 8 ATP
Dekarboksilasi Oksidatif  : 2 NADH                                       = 6 ATP
Siklus Krebs                       : 6 NADH + 2 FADH + 2 ATP     = 24 ATP
Total                                                                                          = 38 ATP

b)      Respirasi Anaerob
Respirasi anaerob dapat pula disebut fermentasi (peragian alcohol atau alkoholisasi) atau respirasi intramolekul. Tujuan fermentasi sama dengan respirasi aerob, yaitu mendapatkan energy. Hanya saja energi yang dihasilkan jauh lebih sedikit dari respirasi aerob. Pernapasan anaerob dapat berlangsung didalam udara bebas, tetapi proses ini tidak menggunakan O2 yang disediakan di udara.
c.       Reaksi Oksidasi
Reaksi Oksidasi dapat didefinisikan sebagai peristiwa kehilangan elektron atau kehilangan hydrogen, sehingga disebut juga reaksi dehidrogenasi. Bila suatu senyawa dioksidasi maka harus ada senyawa lain yang direduksi, yaitu akan memperoleh elektron atau memperoleh hydrogen. Sedagkan pengertian sempit oksidasi dalam biologi merupakan reaksi suatu zat dengan molekul oksigen. Di dalam sistem biologi sel makhluk hidup, reaksi oksidasi reduksi berperan dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energi. Contohnya pada oksidasi glukosa menjadi CO , air dan energi.
Pada percobaan ini  akan mengetahu proses respirasi dan oksidasi dengan menggunakan beberapa bahan sepertilarutan glukosa 10%, larutan ragi, larutan metilen blue dan aquadest.
Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapakan 6 tabung reaksi, 2 tabung reaksi diberi label dipanaskan dan tidak dipanaskan, kemudian memasukan larutan ragi sebanyak 5 mL pada masing-masing tabung dan diberikan perlakuan berbeda. Tabung reaksi pertama dipanaskan dengan Bunsen spirtus sampai larutannya menghasilkan letupan-letupan kecil. Pada tabung reaksi kedua larutan ragi dibiarkan dan tidak dipanaskan. Sambil menunggu, 400 mL air dipanaskan menggunakan Bunsen spirtus dan ditunggu sampai suhunya berkisar antara 35-40 ̊ C. 
Ragi atau fermen merupakan zat yang menyebabkan fermentasi. Ragi biasanya mengandung mikroorganisme yang melakukan fermentasi dan media biakan bagi mikroorganisme tersebut. Media biakan ini dapat berbentuk butiran-butiran kecil atau cairan nutrien. Ragi umumnya digunakan dalam industri makanan untuk membuat makanan dan minuman hasil fermentasi seperti acar, tempe, roti dan bir.
Salah satu Mikroorganisme yang ada dalam larutan ragi yang dibuat adalah Saacharomyces cereviceae.

Klasifikasi
Kingdom      : Fungi
Filum           : Ascomycota
Kelas            : Saccharomycetes
Ordo             : Saccharomycetales
Family          : Saccharomycetaceae
Genus            : Saccharomyces
Spesies          : Saccharomyces cereviceae
 




Berikut ini larutan ragi yang sudah diberi perlakuan berbeda.

4 tabung reaksi lain diberi label dengan huruf A, B, C dan D . pelabelan ini dimaksudkan untuk lebih memudahkan dalam pengamatan. pada tabung reaksi A dan B dimasukan larutan ragi yang sudah dipanaskan masing-masing sebanyak 1 mL atau sama dengan 20 tetes. Sedangkan pada tabung reaksi C dan D dimasukan ragi yang tidak dipanaskan dengan volume yang sama yaitu 1 mL atau 20 tetes.

Selanjutnya pada tabung reaksi A, B, C dan D dimasukan larutan metilen blue 1 mL atau 20 tetes dan larutan glukosa 10% 1 mL atau 20 tetes. Metilen blue digunakan karena secara fisik, metilen biru memberi warna pada sel, namun secara kimia tidak menggangu metabolisme dalam sel, sehingga pengamatan tetap akurat. Selain itu, dalam praktikum ini metilen blue digunakan sebagai indikator adanya kehidupan dalam sel dimana sel disini adalah bakteri dari ragi. Jika warna larutannya berangsur-angsur memudar, maka sel yang diamati masih hidup dan menghasilkan enzim yang menguraikan metilen blue. Jika warnanya tetap biru, berarti sel yang diamati sudah mati.

Larutan glukosa 10% digunakan sebagai bahan yang akan digunakan oleh bakteri dari ragi seperti dalam proses fermentasi sumber utama yang akan diubahnya adalah adalah karbohidrat , sehingga akan terlihat jelas bakteri teersebut bekerja dan hidup dengan baik atau tikak.
Adapun struktur glukosa adalah :

Setelah beberapa penambahan larutan diatas, larutan aquadest dimasukan pada tabung reaksi A, B , C dan D sebanyak 5 mL untuk mengencerkan larutan, sehingga larutan tersebut tidak terlalu pekat karena bertambah volumenya.


Adapun larutan yang sudah diencerkan adalah


Larutan yang sudah di encerkan tersebut kemudian di kocok agar tercampur dengan rata. Semua tabung reaksi warnanya sama yaitu biru pekat. Pada tabung reaksi A dan C yang berisi larutan kemudian ditutup dengan kapas agar tidak ada Oksigen yang masuk. Sedangkan tabung reaksi B dan D dibiarkan terbuka. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Kemudian tabung reaksi A, B, C dan D tersebut di masukan kedalam air yang sebelumnya sudah di panaskan sampai suhunya 35-40 ̊ C. pada ke empat tabung tersebut dilakukan pengamatan perubahan warna serta proses perubahan lainnya selama 40 menit. Setiap perubahan yang terjadi dilihat setiap 10 menit. Adapun hasil pengamatannya adalah :
·         10 menit pertama
-          Pada tabung reaksi A terlihat warna biru sangat pekat (+ + + + + +)
-          Pada tabung reaksi B terlihat warna biru  pekat (+ + + + + )
-          Pada tabung reaksi C terlihat warna biru sedikit pekat (+ + + + )
-          Pada tabung reaksi D terlihat warna biru sedikit pudar (+ + + )
Pada tabung reaksi A dan B perubahan warna tidak terlalu terlihat dan warna keduanya sangat pekat. Sedangkan pada tabung reaksi C dan D perubahan warnanya terlihat dengan jelas. Tabung reaksi A dan C yang ditutup kapas tebih berwarna biru pekat sedangkan tabung reaksi B dan D yang tidak ditutup warnanya memudar.
Hasil pengamatan pada 10 menit pertama dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

   

Tabung reaksi A dan B


Tabung reaksi C dan D

·         10 menit kedua
-          Pada tabung reaksi A terlihat warna biru pekat (+ + + + +)
-          Pada tabung reaksi B terlihat warna biru sedikit pekat (+ + + + )
-          Pada tabung reaksi C terlihat warna biru sedikit pekat (+ + + + )
-          Pada tabung reaksi D terlihat warna biru pudar (+ +)
Pada tabung reaksi A dan B perubahan warna tidak terlalu terlihat dan warna keduanya masih pekat. Sedangkan pada tabung reaksi C dan D perubahan warnanya terlihat sangat jelas. Pada tabung reaksi C warna birunya berkurang dari sebelumnya dan tabung reaksi  D  menjadi sedikit memudar dari sebelumnya. Tabung reaksi A dan B yang ditutup kapas lebih berwarna pekat sedangkan tabung reaksi B dan D yang tidak ditutup warnanya semakin memudar. Hasil pengamatan pada 10 menit kedua dapat dilihat pada gambar dibawah ini


Tabung reaksi A dan B


Tabung reaksi C dan D

·         10 menit ketiga
-          Pada tabung reaksi A terlihat warna biru pekat (+ + + + +)
-          Pada tabung reaksi B terlihat warna biru pekat (+ + + + +)
-          Pada tabung reaksi C terlihat warna biru sedikit pudar ( + + + )
-          Pada tabung reaksi D terlihat warna biru pudar (+ +)
Pada tabung reaksi A yang ditutup dengan kapas dan tabung reaksi B yang dibiarkan terbuka warna tidak berubah ,keduanya masih berwarna biru pekat. Sedangkan pada tabung reaksi C dan D perubahan warnanya terlihat sangat jelas. Pada tabung reaksi C dan D warnanya semakin memudar. Tetapi apabila dibandingkan akan tabung reaksi D yang terbuka lebih pudar dari tabung reaksi C yang di tutup oleh kapas. Hasil pengamatan pada 10 menit ketiga dapat dilihat pada gambar dibawah ini
Tabung reaksi A dan B

Tabung reaksi C dan D
·         10 menit keempat
-          Pada tabung reaksi A terlihat warna biru pekat (+ + + + +)
-          Pada tabung reaksi B terlihat warna biru pekat (+ + + + +)
-          Pada tabung reaksi C terlihat warna biru pudar ( + + )
-          Pada tabung reaksi D terlihat warna biru sangat pudar (+)
Pada tabung reaksi A yang ditutup dengan kapas dan tabung reaksi B yang dibiarkan terbuka warna tidak berubah seperti pada 10 menit ke-3, keduanya masih berwarna biru pekat. Sedangkan pada tabung reaksi C dan D perubahan warnanya semakin memudar. Tabung reaksi C yang ditutup menngunakan kapas berwarna biru pudar sedangkan tabung reaksi D sangat pudar. Hasil pengamatan pada 10 menit ketiga dapat dilihat pada gambar dibawah ini


Tabung reaksi A dan B


Tabung reaksi C dan D

Dari 40 menit tersebut dapat dilihat bahwa pada tabung reaksi A yang ditutup menggunakan kapas dan tabung reaksi B dengan dibiarkan terbuka yang berisi larutan ragi yang telah dipanaskan, perubahan warnanya tidak terlalu signifikan bahkan dari 10 menit ke-3 sampai 10 menit ke-4 warna larutannya masih tetap berwarna biru pekat. Hal tersebut di akibatkan karena bakteri yang ada ada didalam larutan ragi telah mati karena pemanasan sebelumnya sehingga tidak mampu untuk melakukan proses respirasi dan oksidasi baik dalam keadaan aerob (ada oksigen) atau dalam keadaan anaerob (tidak ada oksigen). Hal ini ditandai dengan warna biru yang tetap pekat dan terdapat endapan karena tidak ada proses apapun yang terjadi.
Sedangkan pada tabung tabung reaksi C yang ditutup menggunakan kapas dan tabung reaksi D dengan dibiarkan terbuka yang berisi larutan ragi yang telah dipanaskan, perubahan warnanya terlihat sangat signifikan. Dengan awal mula warna larutan biru pekat menjadi biru sangat pudar. Tetapi terdapat perbedaan kepudaran warna antara kedua tabung tersebut. Tabung reaksi D yang terbuka lebih pudar dibandingkan tabung reaksi C yang di tutup menggunakan kapas. Hal tersebut di akibatkan karena bakteri yang ada ada didalam larutan ragi melakukan proses respirasi. Pada tabung reaksi C bakteri yang ada didalam larutan ragi melakukan respirasi secara anaerob atau dalam keadaan yang tidak ada oksigen sehingga proses respirasi dan oksidasi berjalan dengan lambat.  Reaksi anaerob dapat dilihat pada reaksi dibawah ini.


C6H12O6 ------  2 C2H5OH + 2CO2 + 21 kal + 2 ATP

Pada tabung reaksi D yang terbuka bakteri yang ada didalam larutan ragi melakukan respirasi secara aerob dengan pasokan Oksigen yang cukup banyak sehingga proses respirasi dan oksidasi berjalan dengan cepat terlihat dari warnanya yang sangat pudar. Reaksinya dapat dilihat dibawah ini

                           C6H12O6  6 CO2 + 6 H2O + 675 kal + 38 ATP

Dalam hal ini maka proses fermentasi berlangsung dimana larutan glukosa, fruktosa, galaktosa, dan manosa sebagai Bahan baku respirasi anaerobik menghasilkan  alkohol, karbon dioksida, dan energi. Dalam respirasi aeron dan anaerob ini hanya berbeda dalam jumlah energy yang dihasilkannya.
Sedangkan Proses oksidasi ini dapat berlangsung secara anaerob maupun aerob kecuali pada tabung A dan B yang berisi mikroorganisme mati.
Pada tabung D yang terbuka atau keadaan aerob reaksi berlangsung tanpa adanya oksigen sebagai penerima akhir elektron atau hydrogen. Contohnya adalah proses peragian karbohidrat oleh sel ragi seperti yang dilakukan pada praktikum ini. Karbohidrat seperti pati, glukosa, sukrosa, dll. Dapat diuraikan oleh enzim-enzim yang terdapat di dalam ragi menjadi CO dan etanol.
Pada tabung C yang terbuka dalam keadaan anaerob, reaksi berlangsung dengan menggunakan oksigen sebagai penerima akhir elektron atau hydrogen. Keadaan ini dapat ditemukan pada berbagai sel hidup dalam lingkungan yang cukup oksigen. Hasil akhir oksidasi aerob adalah CO dan air.
Tetapi pada percobaan ini tidak mencapai titik akromatis karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, ketersediaan oksigen, substrat itu sendiri. Atau apabila waktu pengamatan lebih lama lagi mungkin saja akan mencapai titik akromatis. Keseluhuruhan hasil pengamatan pada percobaan ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini .





 
A.    Kesimpulan
Jadi Dari praktikum proses respirasi dan oksidasi ini dapat diketahui beberapa kesimpulan, yaitu :
1.       Mikroorganisme yang ada pada larutan ragi (Saccharomyces cerevisiae) didalam tabung reaksi A dan B tidak melakukan respirasi dan oksidasi karena mengalami kematian akibat pemanasan, sedangkan pada tabung reaksi C dan D terjadi proses respirasi dan oksidasi.
2.      Larutan lukosa 10% dapat difermentasi oleh  larutan ragi yang mengandung mikroorganisme fermentasi yaitu Saccharomyces cerevisiae menghasilkan  alkohol, karbon dioksida, dan energi.
Reaksinya dapat dilihat dibawah ini.
C6H12O6 ------  2 C2H5OH + 2CO2 + 21 kal + 2 ATP
3.      Larutan ragi yang mengandung organisme fermentasi (Saccharomyces cerevisiae) pada tabung C dan D menunjukan bahwa terjadi respirasi secara Anaerob Fakultatif. Organisme anaerobik fakultatif adalah organisme atau bakteri yang mampu menghasilkan ATP secara respirasi aerob jika terdapat oksigen tetapi juga mampu melakukan respirasi secara anaerob (fermentasi) jika keadaanya kekurangan oksigen. Dapat dilihat pada tabung reaksi C yang di tutup dengan kapas dan tabung reaksi D yang terbuka sama-sama  terjadi perubahan warna menjadi memudar.
4.      Proses oksidasi ini dapat berlangsung secara anaerob maupun aerob kecuali pada tabung A dan B yang berisi mikroorganisme mati.  Pada tabung D yang terbuka atau keadaan aerob reaksi berlangsung tanpa adanya oksigen sebagai penerima akhir elektron atau hydrogen. Karbohidrat seperti pati, glukosa, sukrosa, dll. Dapat diuraikan oleh enzim-enzim yang terdapat di dalam ragi menjadi CO dan etanol.
Pada tabung C yang terbuka dalam keadaan anaerob, reaksi berlangsung dengan menggunakan oksigen sebagai penerima akhir elektron atau hydrogen. Keadaan ini dapat ditemukan pada berbagai sel hidup dalam lingkungan yang cukup oksigen. Hasil akhir oksidasi aerob adalah CO dan air.
B.     Soal
1.      Apakah yang dimaksud dengan respirasi sel?
Jawab :
Respirasi sel adalah proses pengubahan senyawa anorganik menjadi organic, atau proses perubahan senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dimana mengahsilkan energy dalam bentuk ATP. Respirasi dilakukan oleh semua sel penyusun tubuh, baik sel-sel tumbuhan,sel hewan dan sel manusia. Ditinjau dari kebutuhannya akan oksigen, respirasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu respirasi aerob (memebutuhkan oksigen) dan respirasi anaerob (tidak membutuhkan oksigen).
2.      Apakah yang dimaksud dengan oksidasi?
Jawab:
Reaksi Oksidasi dapat didefinisikan sebagai peristiwa kehilangan elektron atau kehilangan hydrogen, sehingga disebut juga reaksi dehidrogenasi. Bila suatu senyawa dioksidasi maka harus ada senyawa lain yang direduksi, yaitu akan memperoleh elektron atau memperoleh hydrogen. Sedangkan pengertian sempit oksidasi dalam biologi merupakan reaksi suatu zat dengan molekul oksigen. Di dalam sistem biologi sel makhluk hidup, reaksi oksidasi reduksi berperan dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energi. Contohnya pada oksidasi glukosa menjadi CO , air dan energi.
3.      Apa sebabnya terjadi perbedaan kecepatan perubahan warna antara tabung A dan B, dengan tabung C dan D?
Jawab :
Perbedaan kecepatan perubahan warna antara tabung reaksi A dan B dengan tabung reaksi C dan D terjadi karena perbedaan perlakuan. Pada Tabung A dan B dimasukan larutan ragi yang sudah dipanaskan dan organisme yang ada didalam ragi mati sehingga tidak ada perubahan warna yang signifikan ketika sudah diberi larutan glukosa10 % , dan metilen blue lalu dipanaskan , atau dengan kata lain tidak terjadi proses respirasi dan oksidasi baik dalam keadaan aerob dan keadaan anaerob. Sedangkan pada tabung reaksi C dan D di masukan larutan ragi dipanaskan dan organisme yang ada didalam ragi masih hidup sehingga terdapat perubahan warna menjadi pudar ketika sudah diberi larutan glukosa10 % dan metilen blue, lalu dipanaskan atau dengan kata lain terjadi proses respirasi fakultatif dan proses oksidasi. Selain itu suhu, ketersediaan oksigen, substrat itu sendiri menjadi factor yang menyebabkan perubahan warna berbeda dimana menunjukan kecepatan respirasi pada suatu sel.

Daftar pustaka
Sridianty.2013. Pengertian Respirasi sel. Diunduh pada tanggal 10 November 2017.
anonym. 2012. “Pengetian Oksidasi”. Diunduh pada tanggal 10 November 2017. http://libratama.com/pengertian-oksidasi/
Rifatuliah, amalia. dkk  . 2014. ” Laporan Praktikum Proses Respirasi dan Oksidasi”.Diunduh pada tanggal 09 November 2017. http://ourbiologiesknowladge.blogspot.co.id/2014/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html
Ratnasari, Mia. dkk.2016.“Laporan Praktikum Proses Respirasi dan Oksidasi”. Diunduh pada tanggal 09 November 2017.http://kelompok5fiswanresfirasi3b.blogspot.co.id/2016/11/proses-oksidasi-dan-resfirasi-praktikum.html
Falidaty, Hisni.dkk. “Laporan Praktikum Proses Respirasi dan Oksidasi”. Di unduh pada tanggal 09 November 2017.
wikipedia. “Klasifikasi Saccharmices cereviceae”. Di unduh pada tanggal 09 November 2017. https://id.wikipedia.org/wiki/Saccharomyces_cerevisiae
Wikipedia. Gambar struktur kimia glukosa .Di unduh pada tanggal 17 November 2017. https://www.google.co.id/search?q=struktur+kimia+glukosa&rlz=1C1AVFB_enID761ID762&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwicpamc08TXAhWMqI8KHTxfDAAQ_AUICigB&biw=1366&bih=662#imgrc=vEHG6Q3luTHPfM:







 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar